Senin, 6 Juli 2026 Update 16:03 WIB
Portal berita game, gadget, mobile, dan e-sport

GameNews Update

Portal update game, gadget, esport, dan teknologi terbaru

Sorotan Hari IniPortal Gaming Indonesia

Kecanduan Game Online hingga Tidak Tidur Seminggu, Remaja Ini Jalani Rehabilitasi

Kecanduan Game Online hingga Tidak Tidur Seminggu, Remaja Ini Jalani Rehabilitasi
Kecanduan Game Online hingga Tidak Tidur Seminggu, Remaja Ini Jalani Rehabilitasi Kecanduan Game Online hingga Tidak Tidur Seminggu, Remaja Ini Jalani Rehabilitasi Kecanduan Game Online hingga Tidak Tidur Seminggu, Remaja Ini Jalani Rehabilitasi Kecanduan Game Online hingga Tidak Tidur Seminggu, Remaja Ini Jalani Rehabilitasi Kecanduan Game Online hingga Tidak Tidur Seminggu, Remaja Ini Jalani Rehabilitasi Kecanduan Game Online hingga Tidak Tidur Seminggu, Remaja Ini Jalani Rehabilitasi

Seorang remaja 18 tahun di Nunukan harus menjalani rehabilitasi di rumah sakit jiwa akibat kecanduan game online parah hingga mengabaikan kesehatan.

Tampilkan SelengkapnyaSembunyikan Artikel

Indogamers.com - Fenomena kecanduan game online kembali memakan korban. Seorang remaja berusia 18 tahun di Nunukan, Kalimantan Utara, kini harus mendapatkan penanganan intensif dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DSP3A) setelah terjerat adiksi game online yang sangat ekstrem hingga mengabaikan kebutuhan dasar hidupnya.

Laporan mengenai kondisi remaja ini diterima oleh DSP3A Nunukan dari sang ibu yang merasa khawatir karena anaknya tidak keluar kamar maupun mandi selama satu minggu penuh. Saat petugas gabungan DSP3A dan Satpol PP mendobrak pintu kamar remaja tersebut, ia ditemukan dalam kondisi sangat fokus bermain game dan mengabaikan lingkungan sekitar.

Berikut adalah kondisi mengkhawatirkan yang dialami remaja tersebut:

Abai Kesehatan: Tidak mandi selama seminggu dan mampu terjaga selama berhari-hari tanpa tidur demi bermain game.

Emosi Tidak Stabil: Sang remaja menunjukkan agresivitas tinggi, bahkan tidak segan melukai diri sendiri dengan memecahkan kaca jendela saat emosinya terpancing.

Adiksi Ekstrem: Ia menolak keras siapa pun yang mencoba menyentuh ponsel atau perangkat gaming-nya, menganggap gadget sebagai satu-satunya teman.

Berdasarkan penelusuran DSP3A Nunukan, remaja tersebut sebenarnya dikenal sebagai sosok yang cerdas dan berprestasi di bidang IT. Namun, ia diduga mengalami trauma psikologis akibat keretakan rumah tangga orang tuanya.

Faktor-faktor yang memperburuk kondisi sang remaja meliputi:

Konflik Keluarga: Remaja tersebut menjadi korban perceraian orang tua dan mengalami tekanan mental bertubi-tubi di lingkungan keluarga baru.

Kurangnya Pengawasan: Saat tinggal bersama ayah kandungnya, ia diberikan kebebasan penuh tanpa batasan waktu bermain, yang memperparah kecanduannya.

Riwayat Gangguan Mental: Petugas mengungkapkan bahwa sejak duduk di bangku kelas XI, remaja ini sudah pernah didiagnosis mengalami gejala menuju ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) dan sempat berada di bawah pengawasan medis.

Melihat kondisi yang semakin memburuk, DSP3A Nunukan memutuskan untuk merujuk remaja tersebut ke RS Jusuf SK di Kota Tarakan untuk mendapatkan penanganan psikiatri profesional.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi kita semua. Game online memang sebuah hobi yang menyenangkan, namun ketika digunakan sebagai pelarian atas masalah psikologis yang berat, dampaknya bisa sangat merusak. Pengawasan orang tua dan keterbukaan komunikasi dalam keluarga menjadi kunci utama agar tidak ada lagi generasi cerdas yang masa depannya terenggut oleh adiksi.

Sobat Indogamers, mari jadikan ini pelajaran untuk lebih peka terhadap kondisi mental diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Jika merasa tertekan, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional sebelum terlambat.